27 July 2026
Jember Mini Zoo kembali menambah koleksi satwa dilindungi dengan menghadirkan seekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Joni, seekor orangutan jantan berusia sekitar 18–20 tahun. Kehadiran satwa primata besar ini menjadi langkah strategis Jember Mini Zoo dalam memperkuat fungsi sebagai lembaga konservasi sekaligus meningkatkan kualitas edukasi bagi masyarakat.
Sebagai lembaga konservasi, Jember Mini Zoo memiliki kewajiban menghadirkan koleksi satwa yang didominasi oleh satwa dilindungi. Kehadiran orangutan dipilih untuk melengkapi koleksi satwa konservasi sekaligus menjadi primata besar pertama yang dimiliki Jember Mini Zoo.
Saat pertama kali tiba di Jember Mini Zoo, kondisi Joni mengalami obesitas dengan kelebihan berat badan sekitar 15 kilogram. Tim keeper, kurator, dan medis segera menyusun program diet seimbang agar berat badan Joni kembali ideal, yakni berada pada kisaran 80–90 kilogram sesuai usia dan posturnya.
Selama masa adaptasi, Joni mulai menyesuaikan diri dengan pola perawatan yang baru, mulai dari pola makan, aktivitas harian, hingga lingkungan kandang yang lebih mendukung perilaku alaminya.
"Joni memiliki kebiasaan tidur yang cukup lama di tempat asalnya. Saat ini kami melatihnya untuk lebih aktif bergerak, memanjat pohon, bergelantungan, dan mencari makanan seperti perilaku alami orangutan di habitatnya." ujar tim perawat satwa.
Untuk menunjang kesejahteraan satwa, Jember Mini Zoo telah menyiapkan tiga ruang holding, area exhibit yang mampu menampung hingga tiga ekor orangutan, serta berbagai fasilitas yang menyerupai habitat alami seperti pohon, tali bergelantungan, kolam, dan berbagai media enrichment.
Setiap hari, Joni mendapatkan menu makanan bergizi yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan telur sebanyak tiga kali sehari. Buah naga dan sawi putih menjadi beberapa makanan favoritnya.
Orangutan dikenal sebagai salah satu primata paling cerdas di dunia. Tingkat kecerdasannya bahkan sering disandingkan dengan anak manusia usia sekitar 10 tahun. Orangutan mampu meniru berbagai gerakan motorik manusia, memiliki masa kehamilan yang mirip dengan manusia, dan rentan terhadap beberapa jenis penyakit yang juga menyerang manusia.
Selain menjadi sarana edukasi, kehadiran orangutan di Jember Mini Zoo diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa liar Indonesia. Saat ini, populasi orangutan di alam liar terus mengalami penurunan. Orangutan Kalimantan diperkirakan hanya tersisa sekitar 70.000 individu, orangutan Sumatra sekitar 12.000 individu, sementara orangutan Tapanuli yang merupakan spesies paling langka jumlahnya kurang dari 800 individu.
Ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup orangutan berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi, alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan permukiman, serta perburuan dan perdagangan satwa ilegal.

Orangutan di Jember Mini Zoo
Komitmen Konservasi Jangka Panjang
Jember Mini Zoo juga menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya konservasi orangutan secara berkelanjutan. Salah satu target yang sedang diupayakan adalah menghadirkan orangutan betina sebagai pasangan Joni sehingga dapat mendukung program pengembangbiakan (breeding) di bawah pengawasan lembaga konservasi.
Keberhasilan reproduksi satwa dilindungi menjadi salah satu indikator keberhasilan program konservasi ex-situ yang dijalankan oleh lembaga konservasi.
Ke depan, Jember Mini Zoo juga berencana menghadirkan program edukasi khusus seperti keeper talk orangutan, sehingga pengunjung dapat mengenal lebih dekat perilaku, karakteristik, dan upaya konservasi satwa tersebut secara langsung dari para keeper.
Jember Mini Zoo mengajak seluruh pengunjung untuk turut menjaga kesejahteraan orangutan selama berada di area konservasi dengan mematuhi seluruh peraturan yang berlaku.
Pengunjung diperbolehkan mengambil foto dan video, namun tidak diperkenankan melewati pagar pembatas, melempar benda apa pun ke dalam exhibit, memberikan makanan kepada satwa, maupun membuat kegaduhan yang dapat mengganggu kenyamanan orangutan.
Pemberian makanan dari luar sangat tidak dianjurkan karena dapat mengganggu pola nutrisi yang telah diatur oleh tim perawat satwa dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Melalui kehadiran Joni, Jember Mini Zoo berharap masyarakat tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya menjaga satwa liar Indonesia dan habitat alaminya agar tetap lestari bagi generasi mendatang.